Sabtu, 18 Desember 2021

Jurnal Minggu Ke-16

 

13 Desember 2021 - Elaborasi Konsep (sesi Instruktur)

Dalam kegiatan ini, kami belajar lebih dalam tentang konsep Coaching. Instruktur kami adalah Ibu Murti Ayu Wijayanti. Beliau menyampaikan materi dengan baik dan interaktif. Beliau melibatkan seluruh peserta untuk mencoba teknik Coaching dan memberikan evaluasi jika terjadi kekeliruan. Sejauh ini, Ibu Murti adalah salah satu Instruktur terbaik. Harapan saya adalah semoga ke depannya instruktur yang dihadirkan sekelas dengan beliau atau lebih baik lagi, sehingga proses pembelajaran menarik dan hidup.


14 Desember 2021 - Koneksi Antar Materi

Dalam kegiatan ini, kami diminta untuk menghubungkan materi-materi dari modul yang sudah kami pelajari dan membentuknya dalam grafik, video atau media lain yang kami sukai. Saya memilih bentuk infografik karena saya rasa simple dan tidak menyita waktu. Tantangannya adalah menarik benang merah supaya materi dapat terkoneksi dengan baik dan menjadi suatu konsep yang utuh. 


15 Desember 2021 - Aksi Nyata Modul 2.3

Dalam hal ini kami diminta untuk melakukan teknik Coaching seperti pada Demonstrasi Kontekstual. Lagi-lagi waktu jadi penghambat karena kegiatan ini bersamaan dengan pengerjaan nilai Laporan Penilaian Elektronik (e-raport) sehingga seluruh rekan saya sibuk. Harapan saya semoga penyusunan jadwal ke depan dapat memperhatikan kalender akademik supaya tidak saling bertabrakan dan mengganggu tugas utama.


16 Desember 2021 - Post Test Paket Modul 2

Kami sampai pada ujung perjalanan Modul 2 yaitu Post-Test. Saya agak khawatir karena hari dimana Test dilaksanakan, kegiatan saya super padat di sekolah karena sedang melaksanakan pengisian Laporan Penilaian dan mempersiapkan Perpustakaan untuk kunjungan Inspektorat. Saya tidak punya waktu untuk belajar, sehingga lumayan pasrah dengan hasilnya. Dan sangat bersyukur ternyata hasil yang saya peroleh masih meningkat dari hasi Pre-Test terdahulu. Harapan saya semoga untuk tes terakhir nanti di modul 3, saya bisa lebih baik lagi.


Jurnal Minggu ke-15

 


6 Desember 2021- Ruang Kolaborasi sesi Pengerjaan

Dalam kegiatan ini, kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 3 orang. Setiap individu bertukar peran sesuai dengan studi kasus yang disediakan LMS. Kasus yang disediakan adalah: Coaching siswa yang tidak percaya diri untuk mewakili sekolah dalam lomba pidato Bahasa Inggris tingkat kabupaten, Coaching siswa yang bermasalah karena tidak ikut les privat pelajaran seorang guru dan seringkali disindir, Coaching rekan sejawat yang ditegur Pengawas sekolah karena tidak menggunakan Buku Paket saat mengajar. Dalam kasus 1, saya berperan sebagai Coachee, dalam kasus 2 saya berperan sebagai Coach dan dalam kasus ke-3 saya berperan sebagai pengamat. Kegiatan ini menyenangkan karena kami dapat bekerjasama dan bermain peran. Melalui dialog yang dibangun, kami dapat memperoleh gambaran seperti apa itu teknik Coaching. Tantangannya adalah terkadang dalam situasi nyata, Coachee tidak dengan sukarela menemui kita untuk bercerita, tidak juga terbuka saat ditanya dan seringkali terhambat menyusun rencana.


7 Desember 2021 - Ruang Kolaborasi sesi Presentasi

Kali ini kami bukan lagi berlatih teknik Coaching, tetapi sudah praktek dan wajib merekam melalui Google Meet. Agak sedikit khawatir karena jaringan kurang bagus, dan perlu waktu lama untuk menunggu supaya hasil rekaman masuk ke Google Drive. Hambatan yang dihadapi karena tidak semua anggota kelompok saya memiliki akun Belajar.id. Harapannya semoga ke depannya seluruh guru dan tendik dari jenjang apapun memiliki akun ini dan semoga setiap provinsi memiliki admin super sehingga apabila terdapat masalah, tidak perlu mengurus ke pusat.

8 Desember 2021 - Refleksi Terbimbing
Kegiatan berikutnya adalah Refleksi Terbimbing. Dalam hal ini, kami diminta untuk mengisi angket sesuai dengan Modul 2.3 yaitu Coaching. Kegiatan ini seperti renungan akan apa yang sudah kami pelajari dan lakukan sejauh ini.




9-10 Desember 2021 - Demonstrasi Kontekstual
Dalam kegiatan ini, kami diminta untuk melakukan Praktek Coaching dengan rekan sejawat di sekolah. Dalam hal ini saya mengangkat topik ditegur Kepala Sekolah karena sering terlambat. Hambatan yang saya hadapi adalah waktu. Jadwal untuk kegiatan ini bersamaan dengan persiapan Penilaian Akhir Semester di sekolah saya sehingga rekan-rekan saya lumayan sibuk. Saya harap ke depannya, penyusunan jadwal juga memperhatikan kalender akademik.


11 Desember 2021- Lokakarya 4
Dalam Lokakarya ini kami ditempatkan di Negeri Baru Resort Kalianda. Kegiatan yang kami lakukan antara lain: Evaluasi Pembelajaran Berdiferensiasi, teknik Mindfullness dan teknik Coaching. Lokakarya selalu asyik, terlebih karena kali ini grup yang ada dalam 1 kelas kami semuanya asyik dan kolaboratif sehingga suasana akrab walau baru bertemu pertama kali. Yang kami keluhkan adalah lokasinya karena tidak terawat, kurang resik dan toilet yang tidak berfungsi. Harapan saya semoga ke depannya lokasi ini tidak lagi dipilih, karena kenyamanan juga merupakan faktor utama dalam belajar.


Sabtu, 04 Desember 2021

Jurnal Minggu Ke-14

 


30 November 2021
Mulai dari Diri Modul 2.3
Dalam modul ini kami belajar tentang teknik Coaching. Coaching adalah proses diskusi dan kolaborasi antara Coach dan Coachee yang terfokus pada solusi secara sistematis dan terarah untuk menyelesaikan masalah atau hambatan yang dihadapi.
2 Desember 2021

Menyelesaikan Bimtek Merdeka Belajar.

Materi yang saya dapat dari Bimtek ini kurang lebih sealur dengan yang saya pelajari dari modul Calon Guru Penggerak. Dalam bimtek ini, saya belajar kembali tentang Filosofi Pemikiran KHD dan relevansinya pada pendidikan era modern serta konsep merdeka belajar. Saya merasa senang karena dapat menyelesaikan Bimtek tepat waktu dengan hasil yang baik. Saya harap semoga yang saya dapat bukan hanya sekedar teori, namun dapat diaplikasikan dalam pembelajaran sehari-hari.


2-3 Desember 2021
Eksplorasi Konsep Mandiri
Dalam kegiatan ini, kami diminta untuk menjawab serangkaian pertanyaan berdasarkan analisis studi kasus, video atau penjelasan. Saya agak sedikit bingung dalam materi ini, terutama karena proses Coaching idealnya diinisiasi oleh Coachee sementara pada kenyataannya, siswa di sekolah saya kurang mau untuk berinisiatif meminta bantuan jika mereka menemui hambatan. Saya juga masih harus belajar banyak, bertukar ide dan pengalaman, mencari beragam sumber untuk menyusun strategi yang tepat karena Coaching membutuhkan pilihan-pilihan strategi, bukan hanya satu solusi. Saya berharap, saya dan rekan sejawat yang tergabung dalam komunitas praktisi serta siswa saya dapat berkolaborasi dalam praktek Coaching.

3 Desember 2021
Eksplorasi Konsep Sesi Diskusi
Dalam kegiatan ini kami diminta mengamati suatu video seorang guru yang sedang melakukan Coaching dengan muridnya yang mengalami hambatan dalam suatu pelajaran. Kami juga diminta untuk menjawab 4 pertanyaan terkait video tersebut. Saya mulai sedikit tercerahkan, bahwa apabila coachee tidak berinisiatif menemui kita, kita dapat memulai lebih dahulu, tentu dengan data yang diperoleh melalui pengamatan. Di dalam video itu nyata ditampilkan bahwa siswa menceritakan pengalaman yang sudah dicobanya untuk mengatasi hambatan yang dihadapinya. Jelas juga ditampilkan, siswa sudah memikirkan strategi apa yang akan dicobanya untuk mengatasi hambatannya. Coach hanya menuntun saja supaya Coachee dapat menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya. Saya kurang yakin hal ini dapat saya aplikasikan di sekolah saya. Karena sejauh saya mengamati, siswa saya hanya terfokus pada hambatan dan tidak mencari solusi apa yang harus mereka ambil untuk mengatasi hambatannya. Saya juga ragu memiliki waktu yang cukup untuk mengaplikasikan teknik ini ke seluruh siswa yang saya miliki, karena jika membahas tentang hambatan pasca daring, nyaris seluruh siswa saya memiliki hambatan loss learning yang sama., namun dengan alasan yang berbeda.




Jurnal Minggu ke-13


 22-23 November

Demonstrasi Kontekstual

Dalam kegiatan ini kami diminta untuk membuat suatu RPP yang menunjukkan diferensiasi baik itu diferensiasi kontek, proses ataupun produk serta menyertakan pendidikan sosial emosional di dalamnya. Materi yang saya pilih adalah Teks Naratif dengan diferensiasi konten dan proses serta menyertakan Kompetensi Penguasaan diri, Pengeloon diri, Kesadaran Sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Yang saya rasakan dalam kegiatan ini adalah tertantang, karena dalam situasi PTM kami hanya memiliki waktu dan siswa terbatas sementara kegiatan yang akan saya lakukan banyak dan mengharapkan partisipasi aktif siswa. Harapan saya, RPP ini akan membantu saya untuk dapat memanajemen waktu dan kegiatan, sehingga tujuan pembelajaran yang ingin saya capai dapat terwujud.


24 November 2021

Elaborasi Pemahaman (sesi Instruktur)

Kami berdiskusi tentang materi Pembelajaran Sosial Emosional lebih dalam dengan instruktur Ibu Purnamasari Pelupessy. Dalam sesi ini kami diberi paparan lebih dalam tentang materi yang sedang kami pelajari dan menanyakan tentang hambatan yang kami hadapi di sekolah masing-masing. Saya berharap, sesi ini dapat membantu dan menguatkan saya supaya dapat mengaplikasikan Pembelajaran Sosial Emosional secara konsisten untuk mewujudkan konsep Merdeka Belajar.


25 November 2021

Koneksi Antar Materi

Dalam kegiatan ini, kami menghubungkan materi-materi yang sudah kami pelajari dari modul 1.1 hingga modul 2.2. Saya memilih untuk menyajikan dalam bentuk infografis karena saya belum pernah menggunakan media ini sebelumnya. Yang saya rasakan adalah saya senang karena mempelajari media baru dan kegiatan ini menyegarkan kembali memori saya tentang materi yang sudah kami lewati sebelumnya. Saya harap apa yang saya lakukan dalam kegiatan ini dapat menguatkan konsep saya tentang bagaimana mengaplikasikan merdeka belajar yang sesungguhnya.


26- 29 November 2021

Aksi Nyata Modul 2.2

Disini kami diminta untuk merekam sesi pembelajaran yang melibatkan diferensiasi dan kompetensi sosial emosional dalam waktu 15 sampai 20 menit dan mengunggahnya ke LMS. Siswa yang saya libatkan dari kelas 9-D. Latar belakang siswa beragam. Yang saya rasakan adalah saya senang karena melihat siswa saya antusiasi, terutama saat sesi bermain berkelompok. Masih ada hal yang harus diperbaiki, yaitu rasa percaya diri siswa saya saat sesi presentasi, mungkin dikarenakan mereka harus beradaptasi lagi setelah selama ini belajar melalui metode daring. Dalam pembelajaran ini saya mengaplikasikan teknologi sebagai media bantu. Dalam pembelajaran ini, saya menemui hambatan karena terkadang siswa saya mengalami gangguan jaringan dan WIFI sekolah tidak mencapai spot kelas saya. Dalam mengatasi masalah ini, saya mempersilakan siswa untuk menggunakan hotspot pribadi saya. Saya harap, ke depannya siswa saya dapat lebih mandiri dan percaya diri serta lebih terlibat secara aktif dalam pembelajaran.



Sabtu, 27 November 2021

Jurnal Minggu Ke-12

 Model Papan Cerita


14 November 2021

Mendaftar Bimtek Merdeka Belajar dan Bimtek Numerasi dan Literasi di SIMPK. Hal ini saya lakukan secara sadar dan mandiri untuk mengembangkan kemampuan dan belajar tentang hal baru.


11-12 November 2021
Eksplorasi Konsep- Pembelajaran Modul 2.2
Disini kami disuguhkan 14 topik untuk dipelajari. Dimulai dari Pendahuluan hingga PSE Berbasis Kesadaran Penuh untuk mewujudkan Kesejahteraan hidup. Seluruh materi penting karena saya dapat memahami petingnya konsep Mindfulness bukan hanya untuk profesi saya sebagai guru, tetapi juga untuk meningkatkan penguasaan dan pengelolaan diri sebagai individu. Kami juga dikenalkan dengan Kompetensi Sosial Emosional yang dilibatkan dalam pembelajaran.


15-16 November 2021

Kami memperdalam konsep tentang KSE dan Mindfulness melalui studi kasus. Ada 5 cerita tentang seorang tokoh bernama Pak Eling yang digambarkan menghadapi beragam kegiatan dalam satu waktu yang pada akhirnya mengurangi produktivitasnya. Melalui studi kasus ini, kami belajar menerapkan teori yang kami peroleh sebelumnya dalam Eksplorasi Konsep. Melakukan kegiatan ini, saya seperti berefleksi, karena seperti Pak Eling, terkadang saya pun bukan pengendali emosi yang baik dan terkadang keputusan yang saya ambil pun belum bijaksana.

17 November 2021

Ruang Kolaborasi Sesi Diskusi

Dalam Ruang Kolaborasi pada modul ini, kelas kami dipecah menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok TK, SD, SMP dan SMA. Tetapi karena kelompok SMA hanya terdiri dari 1 CGP, maka karena saya merupakan guru kelas 9, saya ikut dalam kelompok SMA. Disini kami mendiskusikan apa yang sudah dan akan kami lakukan untuk menerapkan KSE dalam pembelajaran.


18 November 2021

Ruang Kolaborasi Sesi Presentasi

Kali ini kami mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok, dan untuk kali ini kami mendapat giliran malam hari. Pukul 19.00 kegiatan dimulai melalui Room Gmeet. Partner saya adalah Frida Magdalena dari SMA Swadhipa Natar. Yang saya rasakan, saya menjadi lebih kaya ilmu karena mendapat partner dari jenjang berbeda. Pengaplikasian KSE ada kesamaan, namun dengan kemasan yang berbeda. Misalnya saja Konsultasi Karir di SMP lebih untuk mengarahkan siswa ke jenjang SMA atau sederajat, sementara untuk SMA lebih pada pengambilan jurusan dalam perkuliahan atau pekerjaan.


19 November 2021
Refleksi Terbimbing
Dalam bagian ini, kami diminta mengisi survey mengenai apa yang penting, apa yang menarik dan apa yang akan kami praktekkan setelah kami mempelajari modul 2.2 ini.





Sabtu, 13 November 2021

Jurnal Minggu Ke-10

Model Papan Cerita

10 November 2021


Koneksi Antar Materi Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi). Disini kami menghubungkan materi yang kami pelajari dalam Modul ini, dimulai dari Mulai dari diri hingga Elaborasi Konsep. Pembahasan saya mengenai Koneksi Antar Materi dapat dilihat pada Koneksi Antar Materi

10 November 2021


Memulai Aksi Nyata Pembelajaran Berdiferensiasi dengan melakukan Pemetaan dan Pre Test untuk Materi Narrative Text. Hal ini ditujukan supaya konten, proses dan produk pembelajaran disesuaikan dengan kesiapan, minat dan profil belajar siswa. Untuk lebih lengkapnya, Pre Test dapat diakses melalui Link Pre Test Narrative Text dan Angket Pemetaan belajar dapat diakses melalui link Angket.

10 November 2021



Mulai mempelajari Modul 2.2 yaitu Pembelajaran Sosial dan Emosional. Seperti biasa kami Mulai dari diri dilanjut pada tanggal 11 dan 12 November dengan Eksplorasi Konsep yang dilakukan secara mandiri

HOMONIM (Materi Bahasa Lampung Kelas 8 Semester 1)

Satu kata diistilahko homonim, ki kata hena ngedok makna lebih anjak sai. Makna sina dapok diliyak anjak konteks kalimatni. Dilom kosakata Bahasa Lampung, lamon kata sai gegoh hinji. Homonim hinji dapok luwagh lamun diperluko. Ulih sebab sina, payu gham bulajagh tentang homonim dilom Bahasa Lampung.

Contoh:

Adi ngingun sai manuk jaguk 

(Adi memelihara satu ayam jago)

Manuk jaguk Adi sai balak sina, diakuk hulun

(Ayam jago Adi yang besar itu diambil orang)

Kata sai dilom kalimat peghtama diartiko "satu/ seekor", kidang dilom kalimat sai ke ghua ghetini iyulah "yang". Guwai paham ghetini kata homonim, gham musti liyak pai konteks kalmatni.

Contoh homonim sai baghih:

Bahasa Lampung                                            Bahasa Indonesia

Wai                                                                  Air, sungai

Bak                                                                  Bak mandi, Bapak

Mak                                                                 Ibu, tidak

Lapah                                                               Jalan, ayo/ mari

Haga                                                                 Akan, mau

Ghik                                                                  Dan, teman

Tawar                                                                Tanpa rasa, sembuh

Balak                                                                Besar, musibah

Betong                                                              Kenyang, perut


Rabu, 10 November 2021

Koneksi Antar Materi Modul 2.1

 Mengajar, namun hasil tidak maksimal? Siswa lebih suka mencoret-coret buku catatannya dengan gambar alih-alih mengerjakan tugas yang diberikan? Mungkin masalahnya adalah kita tidak menyesuaikan metode yang kita pakai dengan kebutuhannya, sehingga siswa enggan dan tidak termotivasi untuk belajar. Lalu, apa solusinya?

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi, guru dituntut untuk mampu memetakan kebutuhan siswa didasarkan atas kesiapan belajarnya, minatnya dan profil belajarnya. Dari pemetaan inilah, guru menyusun suatu skenario pembelajaran yang menjadikan kebutuhan siswa sebagai subyek utama dalam pemilhan konten, proses maupun produk pembelajaran.



Setelah memetakan kesiapan siswa melalui Pre Test atau DIagnostik Test, guru dapat menyimpulkan siswa mana yang membutuhkan asupan lebih dalam pembelajaran karena termasuk dalam golongan yang sudah memiliki latar belakang pengetahuan atas materi yang akan diajarkan. Pun dapat menganalisis, siswa mana yang butuh bantuan lebih ke depannya. Hal ini jelas penting supaya siswa yang sudah memiliki kesiapan lebih tidak merasa bosan karena diberi asupan yang sudah dimilikinya, dan siswa yang belum siap tidak merasa diabaikan karena guru mengajar sesuai kebutuhannya. Demikian juga dengan pemetaan terhadap minat siswa. SIswa yang memiliki minat belajar sambil bermain mungkin tidak akan tertarik jika guru hanya menjelaskan dengan metode ceramah. Begitupun siswa yang lebih suka pembelajaran berbasis IT, akan kurang tertarik jika guru memberikan materi secara konvensional tanpa melibatkan teknologi. Dengan menanyakan siswa, bagaimana mereka ingin proses pembelajaran diselenggarakan, guru telah menjadikan siswa aktor utama dalam pembelajaran. Hal yang tidak kalah penting adalah pemetaan Profil Belajar. Siswa auditori tentu tidak terpuaskan kebutuhannya jika guru lebih banyak menyampaikan materi melalui catatan, sebaiknya siswa visual tidak akan termotivasi jika guru hanya menyampaikan materi dengan metode ceramah, terlebih siswa kinestetik. Memetakan kebutuhan siswa dan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi akan membantu siswa mencapai kesuksesan dalam belajar.



Pada modul sebelumnya, kita ingat bahwa KHD mengibaratkan guru seperti tukang kebun yang harus mampu menumbuhkan benih dalam kondisi tanah seperti apapun. Tukang kebun juga tidak dapat menumbuhkan padi menjadi jagung. Demikian juga dalam pembelajaran. Pembelajaran yang homogen berarti memaksakan siswa untuk keluar dari kodratnya, yang merupakan hal yang mustahil. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang manusiawi dan memerdekakan siswa, sehingga kelak dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.



Sabtu, 30 Oktober 2021

Forum Diskusi- Eksplorasi Konsep Modul 2.1

 


Dalam bagian ini, CGP diminta menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan video dan materi bacaan. Berikut adalah penjabaran jawaban pertanyaan tersebut menurut saya.

1. Informasi atau fakta apa yang disampaikan dalam video dan artikel tersebut?

Pemetaan kebutuhan murid adalah hal signifikan dalam pembelajaran berdiferensiasi yang dapat dilhat melalui 3 aspek yaitu kesiapan belajar, minat dan profil belajar. Hal ini kemudian menjadi dasar praktek diferensiasi pembelajaran di kelas. 

Strategi pembelajaran berdiferensiasi meliputi:

a. Diferensiasi Konten.

Konten merupakan apa yang akan diajarkan guru pada siswanya. Jika dilihat dari kesiapan siswa, maka dapat dilihat melalui jenis informasi yang diajarkan ( mendasar atau transformatif) dan sifat informasi yang diajarkan (abstrak dan konkret). Selain itu juga dapat dilihat dari minat siswa dan menyesuaikan dengan profil belajar siswa (auditori, visual atau kinestetik.)

b. Diferensiasi Proses

Merupakan bagaimana siswa memahami atau memaknai informasi. Apakah pembelajaran akan dilakukan secara berkelompok atau mandiri dan seberapa banyak dan kepada siapa bantuan akan diberikan. Hal ini dapat dilakaukan dengan kegiatan berjenjang, pertanyaan pemandu, membuat agenda individual, menvariasikan lama waktu untuk menyelesaikan tugas, mengembangkan kegiatan bervariasi dan menggunakan pengelompokan yang fleksibel.

c. Diferensiasi Produk.

Yaitu tagihan apa yang diharapkan dari murid, yang dapat dilaksanakan dengan cara memberikan tantangan keragaman dan memberikan pilihan bagaimana mereka akan mengekspresikan pembelajaran. Walau murid diberikan pilihan, guru harus memberikan arahan apa yang diharapkan dari penugasan tersebut yang meliputi kualitas pekerjaan, konten yang wajib ada, bagaimana harus dikerjakan dan sifat akhir produk.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilaksanakan dalam lingkungan yang kondusif dimana semua anggotanya adalah pembelajar (learnng community). Peran guru luar biasa besar untuk mendukung terciptanya atmosfer positif untuk memungkinkan pembelajaran berdiferensiasi. 

Ciri lingkungan yang positif:

a. Setiap orang menyambut dan merasa disambut dengan baik

b. Setiap orang saling menghargai

c. Murid merasa aman secara fisik dan psikis

d. Ada harapan bagi pertumbuhan

e. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan

f. Keadilan dalam bentuk yang nyata

g. Guru dan murid berkolaborasi untuk kesuksesan bersama

2. Gagasan baru apa yang anda dapatkan dari video dan artikel yang anda lihat?

a. Lingkungan positif seperti apa yang memungkinkan berdiferensiasi dalam pembelajaran

b. Strategi yang dapat ditempuh untuk mewujudkan pembelajaran yang berdiferensiasi

c. Penilaian formatif seperti apa yang dapat membantu

3. Apakah menurut anda yang sulit diimplementasikan? Mengapa?

a. Mewujudkan learning community, karena tidak semua pihak mau terbuka terhadap perubahan.

b. Memahami karakteristik siswa yang beragam karena jumlah kelas yang diampu banyak dan waktu yang tersedia sedikit dan banyaknya tugas yang diemban CGP.

4. Pertanyaan apakah yang masih anda miliki atau klarifikasi apakah yang masih anda perlukan terkait dengan isi video dan artikel tersebut?

a. Bagaimana cara efektif untuk mewujudkan learning community?

b. Cara paling efektif untuk memahami karakteristik beragam siswa jika mengampu kelas yang banyak?

Rabu, 20 Oktober 2021

Aksi Nyata Budaya Positif

Melibatkan Siswa dalam Menyusun Nilai Keyakinan


Tata tertib? Dibentuk untuk ditaati atau untuk dilanggar? Banyak pastinya dari siswa kita yang melakukan pelanggaran aturan yang telah ditetapkan. Tentu saja, untuk para pelanggar, ada beragam sanksi yang sudah disediakan. Mulai dari hormat bendera, lari keliling lapangan (tentu saja waktu dan jumlah putaran harus manusiawi), push up hingga menulis "Saya tidak akan mengulangi" hingga tangan kapalan. Namun kita tidak menyadari bahwa siswa kita melakukan pelanggaran terkadang karena memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Apa sajakah kebutuhan dasar tersebut?

Adalah Dinda, seorang siswi 14 tahun yang memasuki masa pubertas. Dia mulai berdandan ke sekolah untuk menarik perhatian orang-orang di sekelilinnya. Dapat dikatakan bahwa Dinda melakukan hal ini untuk memenuhi kebutuhan dasarnya akan cinta dan kasih sayang.

Lain lagi dengan Galang. Siswa ini sering sekali melawan guru. Berkata-kata pun seringkali kasar. Galang juga sering memalak siswa lain yang lebih lemah. Hal ini dilakukan karena Galang memenuhi kebutuhan akan kekuasaan.

Di kelas lain, Budi seringkali bolos dalam kegiatan daring. Ternyata setelah dicari tahu, Budi bekerja menggembalakan ternak tetangganya karena ayahnya baru saja terkena stroke dan tidak bisa melaksanakan tugas tersebut. Budi meninggalkan kewajibannya sebagai siswa untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup.

Anita adalah seorang siswa yang hobi melukis. Tetapi orangtuanya lebih menyukai jika Anita fokus dalam bidang sains. Setiap kali belajar, Anita kurang termotivasi dan lebih suka menggambar di bukunya. Nilainya pun kurang baik dan guru banyak mengeluh karena Anita lebih asik menggambar daripada memperhatikan pelajaran. Dalam hal ini Anita sedang memenuhi kebutuhan akan kebebasan.

Najwa beberapa kali dipanggil guru BK karena ketahuan menyembunyikan benda-benda milik teman-temannya. Bukan berarti Najwa mengambil karena ingin memiliki benda-benda tersebut. Diakui Najwa dia hanya iseng mengerjai teman-temannya. Dalam hal ini Najwa melakukan pelanggaran karena unsur pemenuhan kesenangan.

Nah, tentu setelah memahami kebutuhan dasar tersebut, kita sedikit tercerahkan, ya? Terkadang siswa tidak memahami nilai-nilai kebajikan yang dituangkan dalam tata tertib sekolah. Sederhana saja, hal ini karena mereka tidak dilibatkan dalam penyusunannya. Lalu apa yang harus dilakukan? Mari libatkan siswa dalam bentuk dialog menyusun Nilai Keyakinan yang nantinya akan sama-sama ditaati warga kelas. Berikut ini adalah contoh sederhana Penyusunan Nilai Keyakinan Kelas.


 

Jurnal Minggu Ke-8 Calon Guru Penggerak

 Jurnal Penutup Modul 1


Model yang digunakan:    Model Discroll

14 Oktober 2021



What?
Pelaksanaan Demonstrasi Kontekstual. Tema yang diambil adalah siswa yang melanggar tertib berpakaian. Karena usia Pubertas, siswi di sekolah saya banyak yang mulai mewarnai kuru dan menggunakan pewarna bibir. Pelanggaran ini diselesaikan dengan langkah Restitusi yang melibatkan Stabilisasi Identitas, Validasi tindakan dan Menanyakan Keyakinan. Siswi yang dilibatkan adalah Dwi Cantika dari kelas 9D.

SO WHAT?
Karena biasanya siswa langsung ditunjukkan apa yang harus dilakukannya sebagai penebus kesalahannya, saat Restitusi dijalankan, siswa agak sedikit bingung dan kurang nyaman. Hal ini dinyatakan sendiri oleh siswa. Namun mungkin hanya disebabkan karena belum terbiasa. Rekan sejawat saya juga sedikit bingung karena Restitusi adalah hal baru bagi kami.

NOW WHAT?
Ke depannya perlu disusun terlebih dahulu nilai Keyakinan Kelas yang melibatkan siswa. Dan supaya siswa lebih terbiasa dengan Restitusi, perlu kerjasama dengan pihak sekolah dan Bimbingan Konseling.


15 Oktober 2021



WHAT?

Pelaksanaan Elaborasi Pemahaman sesi bersama Instruktur. Kali ini Instruktur kami adalah ibu Dias Rahmasari dari Sekolah Perkumpulan Mandiri. Sesi dimulai pukul 15.30. Materi yang dibahas adalah Modul 1.4 yaitu Budaya Positif.

SO WHAT?

Yang saya rasa (dan beberapa peserta rasa), sedikit bosan karena kurang interaktif. Mungkin dikarenakan sinyal yang kurang bersahabat juga. Sesi dimana kami diminta bersama-sama membacakan kalimat sesuai dengan Peran Kontrol yang diminta sebenarnya menarik, tapi menjadi kurang jelas karena dilakukan bersama-sama. Akan lebih baik mungkin jika satu mendemonstrasikan dan yang lain menyimak.

NOW WHAT?

Salah satu dialog menarik adalah penting tidaknya motivasi ekstrinsik dalam membentuk kepribadian yang sesuai Profil Pelajar Pancasila. Menurut saya, motivasi intrinsik memang penting, namun motivasi ekstrinsik juga mungkin perlu. Tidak berarti siswa diiming-imingi hadiah supaya lakunya berubah, namun lebih pada penghargaan atas usaha berubahnya.


19 Oktober 2021

https://y2menulis.blogspot.com/2021/10/koneksi-antar-materi-modul-guru.html

WHAT?

Pelaksanaan Koneksi Antar Materi. CGP diharap dapat menyajikan hubungan antara modul 1.1 (Filosofi Pemikiran KHD), modul 1.2 (Nilai dan Peran GP), modul 1.3 (Visi GP) dan modul 1.4 (Budaya Positif). 

SO WHAT?

Selain diminta untuk berefleksi, CGP juga diharap dapat menyusun Kerangka Aksi Nyata yang harus diunggah paling lambat Kamis, 21 Oktober. Yang saya rasakan sepertinya penjadwalan terlalu terburu-buru, karena selain berhadapan dengan LMS, CGP juga mulai melaksanakan PTM dan menghadapi monitoring dan evaluasi dari DInas Pendidikan.

NOW WHAT? 

Karena waktu yang terbatas, maka aksi nyata yang dijadikan rencana adalah yang paling sederhana, yaitu melibatkan siswa dalam menyusun Nilai Keyakinan Kelas.

20 Oktober 2021



WHAT?

AKsi nyata Modul 1.4 yaitu Budaya Positif. Sesuai dengan Kerangka Rencana pada Koneksi Antar Materi (Modul 1.4.9), saya mengambil topik Menyusun Nilai Keyakinan Kelas bersama SIswa. Karena kami melaksanakan PTM dimana hanya 8 siswa yang diijinkan hadir dalam satu ruangan, saya memiih moda daring untuk melalksanakan agenda ini

SO WHAT?

Siswa nampak antusias dalam pelaksanaan. Namun memang keyakinan yang disusun masih sangat sederhana. ALih-alih menyusun dalam bentuk kalimat positif, siswa lebih memilih untuk menggunakan kalimat larangan.

NOW WHAT?

Ke depannya, Nilai Keyakinan Kelas ini dapat diaplikasikan dalam keseharian. Semoga saja dapat meningkatkan ketertiban siswa dan pemahaman akan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan.

Contoh laporan guru piket Praktik Kinerja PMM

  SIlakan Klik